Sunday, October 30, 2016

Akankah (?)

Malam itu jadi saksinya. Aku sempat berharap waktu membawa keberanian bagi kita berdua. Namun aku hanya dapat melirik malu tanpa sepatah katapun. Mata enggan menatap. Kita sama-sama diam... membisu dalam sejuta kata yang menggumpal di otak. Pertanyaan bermunculan dalam pikiran tapi mulut seakan terkunci.

Malam makin larut, ternyata waktu mulai mendatangkan sedikit keberanian. Sepatah kata terucap dari mulutku, dan kau menjawab ragu namun sigap. Kemudian kita kembali ditemani keheningan yang begitu menyergap. Jantung berdebar dan kau tetap membelai keheningan dengan caramu sendiri. Hingga ia membuat hati ini hanyut perlahan. Menghapus rasa curiga dan mengusap rasa kantuk yang begitu mengusik. 

Kita tetap berdua diantara kata yang tak terucap. Namun ia berhasil memeluk hati yang hampir menjamur. Membiarkan mereka yang menatap resah. Melawan lelah dan bersiaga untuk menjaga. Menyentuh hati dengan lembut. Bersama sebentuk animo dahsyat yang ia tunjukan. Bagai jemari yang mengusap halus setiap helai rambut, ia pun mengusap keresahan yang tersembunyi dibalik kebisuan di ujung malam menuju pagi. Hatimu runtuh dan membuatku terjatuh.

Akankah kita menemukan kesempatan lain dimana kata-kata yang membendung di pikiran dapat mendobrak bibir yang terkunci? Atau tak akan temukan jawaban hingga cinta ini kadaluarsa?

Thursday, October 27, 2016

Tanda Tanya

Terekam memori disaat kita saling menatap polos
Awalnya kita tak saling mengenal 
Bermodalkan senyum tipis berharap dapat mencairkan suasana
Cerminan bisu dari kasih yang mungkin terjadi
Sepetik kata yang terucap, memulai cerita kala itu
Menyentuh halusnya percakapan singkat
Terselip perhatian yang tiba-tiba muncul
Jawaban lugu melanjutkan kedekatan
Menciptakan imaji dahsyat yang meruntuhkan keasingan diri
Membentuk ruang gelisah dalam pikiran
Membisikkan hati supaya bertahan
Menggoda perasaan yang dulu terabaikan


Waktu singkat membentuk celah asmara 
Entah bagaimana lanjutan asmara yang bercelah
Akankah teka-teki cinta yang tak terjawab tetap akan menjadi dongeng indah yang tercipta di kemudian hari?



Cinta ini seperti retorika hati
Bias di mata, nyata di jiwa
Kamu ragu untuk datang
Padahal aku menemukan cintaku
Ternyata,
Salah pengertian menyebabkan hati terusik 
Persepsi berlebihan menimbulkan kesalahpahaman
Satu hati berkata "ya," 
Namun yang lain menyaut "tidak" secara semu

Ruang rindu tersentuh dalam peristiwa lalu
Dimana kamu seperti menginsyaratkan kasih
Namun kasih tak kunjung menghampiri
Tanda baca atas kata yang ku terjemahkan
Mengartikan kekeliruan yang fatal